Kalau saja ada test mengenai kesabaran menunggu, kemungkinan saya akan mendapat skor yang terendah. Entah mengapa kalau sedang menunggu, rasanya waktu berjalan begitu lama, apalagi yang jika ditunggu tidak pula kunjung datang dan menggunakan jam karet pula, untungnya pada saat ini ada sudah fasilitas telepon genggam, jika yang ditunggu tidak kunjung datang, kita bisa langsung menghubungi langsung ataupun kirim pesan via SMS dan mengetahui kira-kira berapa lama lagi orang yang kita ditunggu akan datang.
Beberapa waktu yang lalu, ketika saya diminta datang di sebuah Perusahaan, untuk wawancara untuk sebuah lowongan pekerjaan, saya sampai di sana, kira-kira 15 menit lebih awal dari waktu yang ditentukan, saat tersebut cuaca sedang tidak bersahabat, hujan deras, dan jalan menuju ke lokasi tersebut banjir sekitar 20 cm, karena sudah janji meskipun hujan, saya pun tetap hadir tepat waktu.
Sesampainya di sana, saya diminta untuk menunggu, setelah menunggu hampir satu jam di ruang tunggu, ternyata belum ada panggilan untuk wawancara, akhirnya saya bertanya kepada receipsionis, yang dijawab oleh receipsionis, bahwa yang akan melakukan wawancara saya adalah pemilik perusahaan dan datangnya tidak menentu, dan saya diminta untuk menunggu lagi, setelah menunggu satu jam kemudian, ternyata pemilik perusahaan yang akan melakukan wawancara ke saya masih juga belum datang, akhirnya saya membatalkan wawancara atas pekerjaan tersebut dan bilang kepada receipsionis tersebut kalau saya mengundurkan diri dari seleksi wawancara, dan receipsionisnya sempat terkejut dan akhirnya ia bilang ke saya, apa diwawancara sama HRD saja dulu.
Hilang sudah kesempatan untuk bekerja di sana, akibat ketidak sabaran saya untuk menunggu, untungnya pada saat itu saya masih bekerja di perusahaan yang kedua dan dua bulan setelah kejadian ini, saya sudah diterima bekerja di perusahaan saat ini. Mungkin memang bukan jodoh saya untuk bekerja di sana.
Pada kesempatan lain, saat menunggu di ruang praktek dokter, ketika itu saya sedang sakit radang tenggorokan, setelah minum obat bebas, ternyata masih belum sembuh juga. Antrian cukup padat dan dokter yang tunggu masih belum datang, padahal jam telah menunjukkan lebih 30 menit dari jadwal praktek dokter, kabarnya dokter tersebut masih praktek di rumah sakit lainnya, kali ini saya harus sabar menunggu dan mau mengobrol dengan sesama pasien lainnya, rasanya juga agak malas, akhirnya saya membeli sebuah majalah untuk mengatasi kejenuhan saat menunggu giliran saya untuk diperiksa oleh dokter.
Saya berada di ruang periksa dokter mungkin hanya sekitar 15 menit, tetapi waktu saat menunggunya sekitar dua jam, sampai hampir semua isi majalah yang saya beli telah selesai dibaca oleh saya.
Biasanya kalau sedang menunggu teman saat janjian di mal, biasanya saya memilih menunggu di food court atau pun di coffee shop, sehingga dapat menunggu lebih santai daripada harus berdiri sambil terus melihat ke jam tangan, dan untungnya pada saat ini kita bisa memanfaatkan fasilitas telepon genggam, jika yang ditunggu masih lama datang, kita bisa melakukan kegiatan window shopping dulu di mal.
Kalau teman-teman yang lainnya suka acara belanja bersama, malahan saya kebalikannya, saya lebih menyukai belanja sendirian, meskipun kadang kita perginya bersama-sama, tetapi saat sampai di sebuah department store, kita berpencar, masing-masing mencari sesuai dengan kebutuhan, dan selesai selesai berbelanja kita ketemuan lagi, pengalaman kalau berbelanja bareng, lebih banyak menunggunya dan terkadang meskipun kita berteman baik, soal selera dan kebutuhan berbelanja suka berbeda, dan kebetulan temanku juga tidak bermasalah jika kita harus berpencar kita berburu barang belanjaan di department store.
Ketika masih kuliah dulu, saya suka ikut dengan temanku yang membawa mobil sendiri, biasanya kita menunggu di bawah jembatan penyeberangan, meskipun saya kuliah pada pagi hari, tetapi ada beberapa mata kuliah tambahan yang harus diambil pada sore hari. Saat menunggu pada pagi hari, biasanya cukup aman, menunggu sekitar 10-15 menit, temanku sudah datang, tetapi ketika kuliah pada sore hari menjelang malam, biasanya pada saat kita menunggu, terkadang ada pengemudi mobil lain yang iseng tiba-tiba berhenti menawarkan kita untuk ikut naik mobil dengannya, biasanya kalau ada demikian, saya langsung pasang muka cuek dan pura-pura tidak melihat, kejadian ini cukup sering juga dialami.
Salah satu akomodasi yang murah meriah adalah biskota, dulu belum ada yang namanya busway. Saat saya bekerja di daerah Sudirman, saya sering memanfaatkan kendaraan ini, nah kebetulan biskota yang melintas di halte dekat rumahku termasuk trayek yang padat, dan baru ada tiap 15 menit sekali, gara-gara tiap hari menunggu di halte dengan jadwal yang sama, akhirnya saat menunggu di halte biskota, saya memperoleh beberapa teman yang satu jurusan yang bekerja di daerah Sudirman, meskipun gedung kantornya berlainan, dan jika biskota yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang juga ataupun hampir terlambat datang ke kantor, biasanya kita suka sharing buat naik taxi.
Beberapa waktu ketika sedang menunggu boarding pesawat di suatu negara, saya keasikan melihat display toko-toko yang berada di Bandara Internasional, ketika saya melihat di TV monitor bandara, tertera untuk jadwal penerbangan tersebut sudah Final Call, padahal masih ada sekitar 20 menit dari boarding time, ketika berjalan kira-kira 5 menit, saya melihat lagi pada monitor TV berikutnya ternyata sudah Gate Closed, terpaksa dengan tergesa-gesa saya menuju gate tersebut, sesampainya di sana, masih banyak orang yang sedang antri di belakang saya. Tiba-tiba di ruang tunggu boarding, terdapat pengumuman bahwa pesawat akan delay sekitar satu jam, disebabkan keterlambatan dari pesawat sebelumnya. Wah... akhirnya terpaksa harus menunggu lagi, tampak beberapa penumpang pesawat terbang menggerutu.
Lebih baik menunggu apa ditunggu?
Saat saya bekerja di perusahaan yang kedua, saya diminta untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, pada awalnya ketika saya menerima pekerjaan tersebut, saya berpikir jika pekerjaan tersebut dalam diselesaikan dalam waktu satu hari, tetapi kenyataannya pekerjaan tersebut masih tidak dapat diselesaikan tepat waktu karena ada beberapa data yang pending dari department lain.
Pada waktu yang telah saya janjikan, atasan saya menanyakan kepada saya, kira-kira berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan, saya menjawab kira-kira dua jam lagi dan nanti akan saya berikan laporan tersebut, ternyata dua jam kemudian atasan saya menelepon saya menanyakan apakah sudah selesai, ternyata ada beberapa point yang mesti direview ulang, dan atasan saya pun meminta agar draft laporan tersebut segera diberikan kepadanya, ternyata adakalanya ditunggu juga tidak menyenangkan.
Sejak saat itu, jika diminta untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, saya selalu mengatakan “akan saya usahakan untuk selesai dengan tepat waktu.”
Di kantorku saat ini, hampir tiap minggu akan dilakukan meeting mingguan yang telah terjadwal, yang memimpin meeting adalah anak dari pemilik perusahaan, biasanya 10 menit sebelum jadwal meeting, semua peserta sudah harus berada di ruang meeting, karena ketepatan waktu pada saat meeting sangat dihargai, demikian pula jika pemimpin meeting terlambat hadir, biasanya beliau akan memberitahu terlebih dahulu kepada sekretarisnya.
Kalau saya datang terlambat pada saat janjian bertemu dengan teman ataupun rekan kerja, saya merasa tidak enak dan sungkan sama orang yang menunggu kita, dan menyampaikan permintaan maaf. Untuk itu saya berprinsip lebih baik menunggu daripada ditunggu dan selalu mengusahakan agar selalu hadir tepat waktu, dan kalau memungkinkan hadir lebih awal 10 menit dari waktu yang ditentukan.
Adakalanya saat menunggu adalah kegiatan yang menyenangkan, yaitu saat menunggu tanggal gajian tiba, maklumlah bagi orang yang berkerja, saat-saat yang menyenangkan adalah pas gajian hehe… dan menunggu cuti dan liburan tiba, biasanya saat ini adalah saat-saat menyenangkan, bisa membuat suasana hati jadi ceria membayangkan asiknya berlibur, terlepas dari rutinas kegiatan sehari-hari, meskipun beberapa hari menjelang liburan, rasanya kita mempunyai energi tambahan meskipun kita harus bekerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang akan ditinggalkan atau pun mendelegasikan tugas kita kepada pengganti sementara selama kita cuti.
Kadang kala saya memanfaatkan waktu menunggu, dengan berinteraksi dengan orang yang berada di sebelah kita dengan mengobrol tetapi juga harus melihat situasi juga ataupun mengamati suasana dan kegiatan orang-orang yang sibuk, misalnya seperti saat menunggu antrian di rumah sakit, membawa novel atau majalah, atau update status di situs pertemanan, kirim SMS kepada teman-teman (dua yang disebut terakhir, agak jarang dilakukan sih).
Dalam kehidupan sehari-hari, memang kegiatan menunggu memang tidak dapat dihindari, saat menunggu antrian di rumah sakit, bank, ATM, antrian di wahana permainan, bahkan antrian saat mau ke toilet.
Meskipun kegiatan menunggu adalah kegiatan yang paling membosankan, setidaknya menunggu masih jauh lebih nyaman dibandingkan ditunggu oleh orang lain.
Menunggu memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa, dan rasanya saya harus melatih kesabaran dalam hal menunggu dan menjadikan menunggu bukan lagi merupakan sesuatu kegiatan yang membosankan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar